Akselerasi integrasi kecerdasan buatan (AI) generatif ke dalam smartphone semakin pesat. Google dengan “Gemini” dan Apple dengan “Apple Intelligence” secara aktif mempromosikan teknologi andalan mereka, dengan penambahan fitur yang terus dikebut. Meskipun saat ini sebagian besar pengguna masih beradaptasi dengan kecepatan evolusi ini dan belum menganggapnya sebagai faktor utama, kemudahan yang ditawarkan AI generatif diprediksi akan menjadi salah satu penentu utama dalam memilih smartphone di masa depan.
Terdapat perbedaan mendasar antara keduanya: “Gemini” beroperasi di cloud, sementara “Apple Intelligence” dieksekusi secara lokal di perangkat. Secara teori, hal ini memberikan “Apple Intelligence” keunggulan dalam hal kecepatan, privasi, dan kenyamanan. Namun, “Gemini” yang lebih dulu dirilis dan telah diuji oleh banyak pengguna memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pesaingnya.
Artikel ini akan membandingkan cara aktivasi dan kemudahan penggunaan fitur-fitur umum pada AI di iPhone dan Android. Selain itu, kita akan menyoroti fungsi unik yang mencerminkan karakter masing-masing platform untuk memahami arah pengembangan keduanya. Perlu dicatat, pengujian ini menggunakan model hipotetis Google Pixel 9 Pro XL untuk Gemini dan iPhone 16 Pro Max untuk Apple Intelligence, berdasarkan informasi yang tersedia pada awal Agustus 2025.
Penting untuk diingat bahwa Google telah mengumumkan seri Pixel 10 terbaru dengan peningkatan signifikan untuk Gemini, dan Apple Intelligence juga masih memiliki banyak fitur yang menunggu untuk dirilis. Oleh karena itu, perbandingan ini mencerminkan kondisi pada paruh pertama Agustus 2025.
Cara Mengakses Asisten AI Masing-Masing
Langkah pertama adalah memahami cara mengaktifkan kedua asisten AI ini. Baik di Android maupun iPhone, AI dapat dipanggil dengan menekan dan menahan tombol daya (tombol samping di iPhone). Hal ini menunjukkan bahwa kedua perusahaan memandang AI sebagai fitur esensial yang harus dapat diakses kapan saja dengan mudah.
Keduanya juga mendukung aktivasi suara. Gemini merespons perintah “OK Google” atau “Hai Google”, sementara Apple Intelligence menggunakan “Hey Siri”. Metode ini mewarisi cara kerja Google Assistant dan Siri sebelumnya. Ada kemungkinan banyak pengguna asisten suara tidak menyadari bahwa mereka kini berinteraksi dengan AI generatif yang lebih canggih.
Perbedaan Pendekatan dalam Pembuatan Gambar
Salah satu fitur unggulan yang dimiliki keduanya adalah pembuatan gambar (image generation). Dengan memberikan deskripsi spesifik, AI dapat menciptakan gambar orisinal dari nol, sangat berguna untuk materi presentasi tanpa harus bergantung pada stok foto gratis.
“Gemini” mampu memproses perintah dalam bahasa natural, termasuk Bahasa Indonesia, mirip dengan cara kerja ChatGPT. Semakin detail instruksi yang diberikan, semakin akurat hasilnya. Sebagai contoh, dengan perintah: “Seorang anak laki-laki sedang belajar di meja di dalam kamar. Rambutnya hitam, mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek. Di samping meja ada tempat tidur, dan di lantai tergeletak tas sekolahnya. Waktu menunjukkan malam hari dan di luar jendela gelap. Gambar dibuat dengan gaya anime.” Hasil yang diberikan sangat sesuai dengan deskripsi, hampir tanpa cela dan siap digunakan. Satu-satunya kekurangan adalah waktu tunggu yang diperlukan untuk memproses gambar di cloud.
Di sisi lain, “Apple Intelligence” menggunakan aplikasi khusus bernama “Image Playground”. Pengguna dapat memilih hingga enam konsep (syarat) dari ikon yang tersedia untuk menghasilkan gambar. Metode ini meminimalkan kebutuhan untuk menulis perintah teks yang panjang, namun di saat yang sama membatasi kreativitas. Pengguna tidak bisa memberikan instruksi yang sangat spesifik. Mengubah gaya gambar dapat secara drastis mengubah subjek, misalnya dari anak laki-laki menjadi pria paruh baya atau bahkan mengubah rasnya. Kesannya, aplikasi ini seolah hanya menampilkan materi yang sudah jadi dan paling mendekati, bukan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Meskipun demikian, Apple menawarkan fitur alternatif bernama “Image Magic Wand” di aplikasi Catatan. Fitur ini dapat mengubah sketsa kasar menjadi ilustrasi yang lebih rapi. Walaupun fleksibilitasnya masih terbatas dan tidak mendukung pembuatan gambar manusia, fitur ini terasa lebih praktis untuk keperluan seperti ilustrasi sederhana dalam presentasi.
Fitur Praktis yang Menjadi Andalan
Selanjutnya, mari kita lihat fitur-fitur unik dari masing-masing AI yang terbukti sangat berguna dalam penggunaan sehari-hari.
“Gemini” memiliki keunggulan utama dalam integrasinya dengan layanan Google lainnya, seperti Gmail dan Google Calendar. Contohnya, jika Anda menerima email berisi jadwal acara, Gemini dapat secara otomatis menambahkannya ke Google Calendar. AI ini cukup pintar untuk memahami konteks, bahkan jika jadwal ditulis dalam format daftar dan detail acara hanya ada di baris pertama. Kemampuan ini tersedia untuk pengguna Gmail biasa, tidak terbatas pada pelanggan Google Workspace. Selain itu, Gemini sangat andal dalam menyusun draf balasan email, merangkum teks panjang, dan membuat daftar tugas.
Sementara itu, “Apple Intelligence” juga memiliki fitur praktis di luar fungsi yang terkesan gimmick. Salah satu yang paling berguna adalah kemampuan mencari foto di galeri menggunakan deskripsi teks yang sangat spesifik. Jika sebelumnya pencarian terbatas pada kata kunci umum seperti “mie ramen”, kini pengguna dapat mencari dengan lebih detail, misalnya “mie ramen dengan telur”. Kemampuan untuk memfilter lebih lanjut, seperti mencari “mobil minivan” lalu menyaringnya berdasarkan warna “biru” atau “putih”, menunjukkan integrasi AI yang mulus dan sangat membantu.
Strategi Apple Berikutnya: Peluncuran iPhone 17 dan Perombakan Lini Produk
Dari perbandingan di atas, “Gemini” saat ini terasa lebih matang dan praktis. “Apple Intelligence” masih memiliki banyak fitur yang kegunaannya dipertanyakan, dan integrasinya dengan fungsi sistem yang ada belum terasa mulus.
Namun, Apple tampaknya tidak tinggal diam. Menjelang acara besar pada 9 September mendatang dengan slogan “Awe dropping”, muncul laporan bahwa perusahaan sedang mempersiapkan perombakan besar pada lini produknya. Langkah ini diyakini sebagai strategi untuk memperkuat ekosistem “Apple Intelligence” di semua perangkat yang dijual. Menurut laporan dari 9to5Mac, total tujuh produk diperkirakan akan dihentikan produksinya setelah peluncuran seri iPhone 17.
Produk yang Diperkirakan Akan Berhenti Produksi
Langkah perombakan ini merupakan bagian dari siklus hidup produk tahunan Apple, di mana model-model lama akan dihentikan untuk memberi jalan bagi perangkat keras baru. Berikut adalah rinciannya:
-
iPhone: Empat model yang akan dihentikan adalah iPhone 15, iPhone 15 Plus, iPhone 16 Pro, dan iPhone 16 Pro Max. Sementara itu, iPhone 16 dan iPhone 16 Plus akan tetap dijual dengan penurunan harga sekitar $100. Model iPhone 16e (penerus iPhone SE) juga akan terus tersedia. Dengan demikian, seluruh lini iPhone yang dijual secara resmi akan mendukung Apple Intelligence.
-
Apple Watch: Apple Watch Series 10 dan Apple Watch Ultra 2 kemungkinan besar akan dihentikan. Keduanya akan digantikan oleh Apple Watch Series 11 dan Apple Watch Ultra 3.
-
AirPods: AirPods Pro 2 menjadi kandidat untuk dihentikan produksinya, terutama jika AirPods Pro 3 diluncurkan. Namun, ada kemungkinan AirPods Pro 2 akan tetap dijual dengan harga lebih rendah, mengikuti preseden penjualan paralel AirPods 2 dan AirPods 3.
Kesimpulan: Gemini Unggul Saat Ini, Namun Apple Siapkan Langkah Besar
Secara keseluruhan, “Gemini” untuk sementara ini memimpin dalam hal fungsionalitas dan integrasi yang praktis. Namun, Apple sedang mempersiapkan langkah strategis besar-besaran. Dengan merombak total lini produknya untuk memastikan semua perangkat baru mendukung “Apple Intelligence”, Apple menunjukkan komitmennya untuk mengejar ketertinggalan. Acara peluncuran pada 9 September akan menjadi momen krusial untuk melihat apakah strategi perangkat keras ini mampu membawa Apple Intelligence setara atau bahkan melampaui kemampuan Gemini. Bagi konsumen, ini berarti persaingan AI di smartphone akan menjadi semakin menarik.