Inovasi dan Energi untuk Masa Depan Indonesia: Transformasi Keuangan Digital dan Langkah Strategis Energi Nuklir

Digitalisasi Keuangan Menyasar Akar Rumput

Amartha, platform teknologi keuangan asal Indonesia, mengumumkan transformasinya menjadi Amartha Financial Group setelah berhasil memperoleh lisensi dompet digital dari Bank Indonesia. Langkah ini menandai komitmen perusahaan dalam memperluas jangkauan layanan keuangan digital yang inklusif bagi pengusaha mikro di pedesaan.

Dengan status barunya, Amartha tidak hanya menyediakan pinjaman mikro, tetapi juga menghadirkan pembayaran digital, investasi mikro, dan layanan keuangan berbasis teknologi lainnya. Pendekatan ini membentuk infrastruktur keuangan terpadu untuk masyarakat pedesaan, yang menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 40 juta pekerja informal menurut BPS.

CEO dan Pendiri Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menjelaskan bahwa misi perusahaan adalah mengungkit potensi ekonomi desa melalui sinergi antara teknologi dan pemahaman mendalam terhadap perilaku masyarakat. “Kami ingin agar jutaan pengguna akar rumput dapat meningkatkan pendapatan, memiliki aset, dan mengendalikan masa depan mereka,” tegasnya.

Teknologi dan Dampak Sosial di Tingkat Desa

Sejak berdiri pada 2010, Amartha telah menyalurkan pinjaman ke lebih dari 3,3 juta pengusaha perempuan di 50.000 desa. Kepercayaan dibangun melalui pendekatan langsung ke komunitas dan didukung oleh sistem penilaian kredit berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan selama lebih dari satu dekade.

Layanan baru Amartha menciptakan siklus keuangan sehat: pengusaha kecil dapat meminjam modal, berinvestasi untuk membangun aset, dan memanfaatkan pembayaran digital untuk efisiensi biaya. Model ini menurunkan biaya transaksi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya tahan ekonomi keluarga serta komunitas secara keseluruhan.

Namun, tantangan tetap besar. Sekitar 81% masyarakat Indonesia masih belum memiliki akses penuh ke layanan keuangan formal. Menurut Nailul Huda dari CELIOS, kesenjangan ini paling terasa di daerah pedesaan. Ia menyebut transformasi Amartha sebagai langkah penting dalam mendorong inklusi keuangan yang lebih merata.

Ketertarikan Investor dan Model Global

Berbeda dari mayoritas perusahaan fintech lain yang terpusat di kota besar di Jawa, Amartha justru menyasar komunitas pedesaan yang kerap terpinggirkan. Pendekatan unik ini menarik perhatian lembaga global seperti IFC, Women’s World Banking, Accion Digital Transformation Fund, dan berbagai dana negara Eropa.

Ramdhan Anggakaradibrata, CFO Amartha, menyatakan bahwa sejak 2021 perusahaannya telah mencetak laba, dan tata kelola serta perlindungan peminjam yang sesuai standar internasional menjadi nilai tambah di mata investor global.

Njord Andrewes, mitra dari Accion Digital Transformation, menyebut Amartha sebagai contoh ideal bagaimana teknologi bisa menciptakan kesejahteraan bersama bagi masyarakat desa melalui alat keuangan digital yang aman, inklusif, dan memberdayakan.

Strategi Energi Nasional: Nuklir untuk Masa Depan Berkelanjutan

Bersamaan dengan transformasi keuangan tersebut, Indonesia juga melangkah ke arah kemandirian energi. Dalam Nusantara Energy Forum di Jakarta, PT PLN (Persero) bersama pemerintah mengumumkan rencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai bagian dari strategi energi nasional.

Dirjen Ketenagalistrikan ESDM, Jisman P. Hutajulu, menyatakan bahwa tenaga nuklir kini diakui sebagai sumber energi penyeimbang dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). Dalam RUPTL PLN 2025–2034, sudah direncanakan pembangunan dua unit PLTN berkapasitas masing-masing 250 MW.

Direktur Teknologi dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, menegaskan bahwa energi nuklir merupakan solusi paling ideal untuk menyelesaikan trilema energi nasional: keandalan, keterjangkauan, dan keberlanjutan. “PLTN mampu menghasilkan listrik stabil seperti PLTU batu bara, namun dengan biaya lebih rendah dan tanpa emisi,” jelasnya.

Pengelolaan Limbah dan Keunggulan Teknologi

Salah satu kekhawatiran utama terhadap energi nuklir adalah pengelolaan limbah. Namun, menurut Syaiful Bakhri dari BRIN, kekhawatiran ini tidak sebanding dengan realitas. Ia menjelaskan bahwa satu PLTN yang beroperasi selama 40 tahun hanya membutuhkan ruang penyimpanan limbah seukuran satu ruangan kecil.

Selain itu, 95% bahan bakar bekas masih dapat didaur ulang, sementara sisanya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan medis, industri, dan iradiasi pangan. Hal ini menunjukkan bahwa energi nuklir tidak hanya efisien, tetapi juga ramah lingkungan bila dikelola dengan benar.

Kesimpulan: Dua Pilar Pembangunan Masa Depan

Transformasi Amartha dalam memperluas inklusi keuangan akar rumput, dan langkah strategis pemerintah dalam mengembangkan energi nuklir, mencerminkan arah baru pembangunan Indonesia. Keduanya menawarkan solusi jangka panjang yang bertumpu pada teknologi dan keberlanjutan—mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus menjawab tantangan krisis energi global.

Dengan kolaborasi antara sektor swasta dan negara, serta dukungan kuat dari pemangku kepentingan internasional, Indonesia tengah mempersiapkan fondasi kuat menuju masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing.